header officialwebhosting header officialwebhosting header officialwebhosting header officialwebhosting header officialwebhosting
button officialwebhosting button officialwebhosting button officialwebhosting button officialwebhosting button officialwebhosting button officialwebhosting button officialwebhosting  


[x] Search@mysite



[x] Menu Utama

[x] Share this website
Bookmark and Share

[x] Facebook & Twitter


Dunia Maya: PASAR MENGGIURKAN BAGI PREDATOR ONLINE
Warta IT Oleh Amir Sodikin

Orang Indonesia, yang mengalami lompatan teknologi konvensional ke
teknologi siber yang mobile, beberapa di antaranya bahkan belum pernah
mengenal komputer, ternyata punya karakter yang mudah dibujuk. Merujuk
kecenderungan ini, Indonesia adalah pasar yang menggiurkan bagi
predator online.

Predator online adalah sebutan untuk orang-orang yang mencari anak-
anak muda, termasuk anak-anak belasan tahun, untuk dijadikan korban
demi kepentingan bisnis seks atau pencabulan. Kepentingan bisnis seks
bisa berupa pengambilan dan pemuatan foto atau video tak pantas, atau,
dalam tingkat kronis, dimanfaatkan sebagai jaringan pekerja seks
komersial.
Uniknya, Indonesia tak hanya potensial untuk mencari korban,
tetapi sekaligus potensial menjadi surga bagi para pelaku. Selain
menghasilkan uang, situs web berbau porno juga menghasilkan lalu
lintas pengunjung yang tinggi. Itu berarti pasar yang tinggi.
Sekarang, dengan maraknya situs jejaring sosial, untuk membuat
konten dan layanan berbau porno tak harus profesional menjadi
webmaster dulu. Cukup dengan memainkan akun di salah satu situs
jejaring sosial sudah bisa untuk berkampanye dan mencari mangsa
leluasa.
Dari data alexa.com, banyak situs porno masuk urutan 100 besar
yang sering diakses pengunjung dari Indonesia. Ini memanfaatkan
kelemahan Indonesia yang tak punya kepedulian dan tak punya kekuatan,
baik sumber daya manusia maupun sumber daya uang, untuk memerangi
persoalan seperti ini sejak dini.
Setiap hari, di media iklan online gratis terus bertebaran iklan
yang memfasilitasi hasrat para predator. Setiap hari pula para pembuat
konten industri seks terus berkreasi meningkatkan lalu lintas
bisnisnya. Kita masih sebatas menonton, tanpa bisa mencegah, apalagi
menindak.
Para predator online makin aktif mengintai mangsanya. Mereka tak
selamanya menggunakan broker germo atau lewat jasa salah satu situs
dewasa, beberapa di antaranya langsung bergentayangan di situs
jejaring sosial dan forum-forum diskusi.
Salah satu mangsa yang mudah diperdaya adalah anak-anak belasan
tahun, terutama usia SMP dan SMA. Fenomena itu terus menjamur seiring
makin leluasanya mengakses internet dari komputer atau telepon
genggam. Jadi, ancaman untuk anak-anak kita sedekat genggaman tangan
kita.

Mereka korban
Menurut pakar pendidikan Arief Rachman, dari sisi moralitas, para
siswi sekolah yang ketahuan melacurkan dirinya lewat internet, seperti
di Surabaya, tak boleh disebut sebagai tersangka. Sebab, mereka justru
menjadi korban dari sebuah ketidakteraturan nilai dan penegakan hukum
yang berlaku di dunia, termasuk Indonesia, saat ini.
Arief melihat di seluruh dunia telah terjadi kekeliruan luar biasa
karena mengubah pola pikir masyarakat, orangtua, dan anak mengenai
nilai-nilai kesuksesan pada hal terukur yang tampak pada uang, titel,
dan fasilitas yang mereka miliki.
"Bukan salah anak-anak itu. Yang salah adalah negara, masyarakat,
dan keluarga yang menentukan ukuran kesuksesan yang bersifat 'kulit'-
nya, bukan pada hal spiritual, emosional, dan sosial, misalnya
tanggung jawab dan pengembangan diri," ujarnya.
Godaan konsumerisme di seluruh dunia kini begitu dahsyat sehingga
melenakan masyarakat, termasuk siswa sekolah.
"Nilai kesuksesan hanya diukur dari populer, cantik, tampil seksi,
sehingga orang kemudian berlomba-lomba ikut lomba yang jika menang
akan membuat posisi orang bersangkutan amat populer," kata Arief
Rachman yang lebih suka disebut sebagai pendidik.
Populer bagi mereka, lanjutnya, identik dengan harus tampil mewah
dan hidup serba nyaman yang tentu butuh biaya. Celakanya, sebagian
dari anak-anak sekarang tidak tahan untuk menderita, maunya nyaman
selamat dan benar. Jika kebetulan tak ada ongkos untuk memenuhi
kebutuhan tersebut, akhirnya ada remaja lebih memilih jalan pintas
dengan menampilkan aspek seksualitas.
"Saya ngeri melihat keadaan misalnya anak-anak kecil sudah
menyanyikan lagu-lagu cinta, itu karbitan. Ya seperti ujian nasional
kitalah," katanya mengaitkan penilaian hasil belajar siswa ala
pemerintah yang hanya lewat hasil ujian nasional.
Arief juga melihat anak-anak sekarang bila temannya berbuat benar
malah dinilai aneh. Sebaliknya bila berbuat amoral semakin dianggap
biasa.
"Pendidikan dalam keluarga dan sekolah sangat berperan untuk terus
melatih takut akan Tuhan, bertanggung jawab, bersikap, berpikir,
berbicara benar, tahan banting, dan mensyukuri apa yang mereka terima.
Tetapi, tentu saja harus pula diikuti pembiasaan hal yang sama di
rumah dan di masyarakat," katanya.
Ia mengakui tidak mudah mengembalikan kondisi yang karut-marut
itu, tetapi ia sebagai pendidikan mengajak semua pihak untuk tidak
lelah dan patah semangat. "Mereka itu anak-anak kita. Kita wajib terus
mengingatkan," kata Arief Rachman.

Pendidikan moral
Senada dengan Arief Rachman, psikolog dari Universitas Indonesia,
Lucia RM Royanto, mengatakan, remaja-remaja yang terjerat dalam
pornografi online adalah korban dari dunia sekitarnya. "Baik itu
masyarakat, guru di sekolah, maupun keluarganya sendiri," kata Lucia.
Informasi yang berkaitan dengan dunia maya, baik konten maupun
perantinya, sama sekali tidak bisa dicegah perkembangannya. "Namun,
masyarakat kita tidak siap. Masyarakat berubah, dunia berubah, tetapi
pendidikan terhadap anak untuk menghadapi perubahan ini nyaris tidak
ada," ujar Lucia.
Persiapan yang harus disiapkan adalah moralitas. Anak disiapkan
agar mereka mempunyai kesadaran diri sendiri. Jadi, ketika hendak
melakukan sesuatu yang tidak benar, mereka mempunyai rambu-rambu
sendiri. "Mereka sadar sendiri karena mempunyai kesadaran hati," kata
Lucia.
Lucia mengakui, sudah sejak lama sekolah memberikan pendidikan
tentang seks kepada murid-muridnya. Namun, pendidikan seks itu hanya
berkutat pada ilmu pengetahuan, sedangkan moralitas mengenai seks itu
sendiri tidak dibangun. "Guru-guru sudah dikejar dengan beban
kurikulum yang sangat berat. Mereka tidak punya ekstra waktu dan
pikiran untuk mengajarkan soal moralitas seks," ujarnya.
Di rumah, anak-anak juga sering kali tidak mendapatkan contoh yang
baik dari orangtua. Misalnya, orangtua melarang anak melihat gambar
porno, tetapi mereka sendiri menyimpan gambar-gambar porno.
Di masyarakat, saat ini masalah spiritualitas dan agama juga
cenderung hanya menjadi ritual belaka yang membuat anak kehilangan
makna dari spiritualitas itu sendiri. Lucia berpendapat, untuk
memperbaiki kondisi ini, harus dikembalikan kepada keluarga. "Orangtua
harus mempunyai waktu untuk berbicara tentang apa saja dengan anak,"
katanya. (SULASTRI SOEKIRNO/M CLARA WRESTI)
Sumber: cetak.kompas.com
Posted by officialwebhosting on Friday, February 19, 2010 (09:25:01) (322 reads)

Associated Topics

Warta IT

"Dunia Maya: PASAR MENGGIURKAN BAGI PREDATOR ONLINE" | Login/Create an Account | 0 comments
Threshold
The comments are owned by the poster. We aren't responsible for their content.



[x] Related Links
 More about Warta IT

Most read story about Warta IT:
SOFTWARE MUSLIM YANG WAJIB PUNYA

[x] Article Rating
Average Score: 0
Votes: 0

Please take a second and vote for this article:

Excellent
Very Good
Good
Regular
Bad


[x] Options


Hosting Gratis Indonesia CPanel PHP MySQL Domain Murah Sedia Shoutcast Server Radio Streaming WHMSonic Shared Hosting Atau VPS Juga Dedicated Server
Officialwebhosting.NET adalah divisi usaha online Laruss Primatama. Laruss Office: Jl Assirot No 46D Sukabumi Selatan, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. 11560
HOME Base Officialwebhosting.NET: Jl DR Cipto Mangunkusumo Mahkota Simprug A7/12A Tangerang. 15154.
Email : support@officialwebhosting.net, officialwebhosting@gmail.com. Phone : 021-70580777. Jika ingin mendapatkan support, tak perlu menelepon, silakan berkirim email saja.
Copyright © OfficialWebHosting DotNet. All Rights Reserved, Powered by Laruss Group

This site uses Thumbshots previews
Interactive software released under GNU GPL, Code Credits, Privacy Policy